Horror Riddle • Level 3/5

Teman Tidur

Naya bilang aku adalah sahabat terbaiknya. Ibunya bilang aku adalah alasan Naya tidak pernah bisa tidur sendiri.

Naya dan aku sudah bersama sejak dia masih kecil.

Aku bahkan tidak ingat kapan pertama kali kami bertemu.

Yang aku tahu, setiap malam aku selalu berada di kamarnya.

Naya suka bercerita sebelum tidur.

Tentang sekolah.

Tentang anak laki-laki yang dia sukai.

Tentang teman-temannya yang menyebalkan.

Aku selalu mendengarkan.

Aku memang tidak banyak bicara.

Tapi Naya tidak pernah keberatan.

Katanya aku pendengar yang baik.

Ibunya tidak terlalu menyukaiku.

Setiap masuk kamar, dia selalu menatapku cukup lama.

Kadang dia berkata,

“Naya sudah besar. Kamu nggak butuh dia lagi.”

Tapi Naya selalu membelaku.

“Aku nggak bisa tidur kalau dia nggak ada.”

Akhirnya ibunya menyerah.

Aku tetap boleh tidur bersama Naya.

Seperti biasa.

Ada satu hal yang sedikit menggangguku.

Naya semakin besar.

Sedangkan aku tidak pernah berubah.

Rambut Naya semakin panjang.

Tubuhnya semakin tinggi.

Bajunya terus berganti.

Sementara aku masih mengenakan pakaian yang sama seperti bertahun-tahun lalu.

Naya pernah bercanda soal itu.

Katanya aku beruntung.

“Kamu nggak akan pernah tua.”

Aku tidak tahu apakah itu benar.

Aku bahkan tidak tahu seperti apa wajahku sekarang.

Cermin di kamar Naya terlalu tinggi untukku.

Beberapa minggu terakhir Naya sering sakit.

Dia lebih banyak berbaring.

Kadang ibunya datang membawa obat, kemudian duduk di samping tempat tidur sambil menangis diam-diam.

Aku ingin bertanya apa yang terjadi.

Tapi seperti biasa, aku hanya bisa menemani Naya.

Suatu malam Naya memelukku sangat erat.

“Kalau aku pergi, kamu ikut aku ya?”

Aku ingin mengatakan iya.

Tentu saja aku akan ikut.

Kami selalu bersama.

Besok paginya kamar Naya penuh orang.

Ibunya menangis.

Ayahnya berdiri di dekat pintu sambil menunduk.

Beberapa orang membawa Naya pergi.

Untuk pertama kalinya...

mereka meninggalkanku sendirian di kamar.

Naya tidak kembali malam itu.

Tidak juga malam berikutnya.

Seminggu kemudian, ibunya mulai membereskan kamar.

Buku-buku dimasukkan ke kardus.

Pakaian Naya dilipat.

Foto-foto diturunkan dari dinding.

Kemudian dia melihatku.

Untuk beberapa detik kami hanya saling diam.

Lalu dia berjalan mendekat.

Mengangkat tubuhku.

Dan berkata pelan,

“Aku seharusnya membuangmu sejak dulu.”

Dia memasukkanku ke dalam kantong plastik hitam.

Mengikatnya.

Gelap.

Aku tidak tahu berapa lama aku berada di sana.

Sampai akhirnya aku mendengar pintu rumah terbuka.

Suara langkah kaki ibunya menjauh.

Lalu...

seseorang membuka ikatan plastik itu dari luar.

Cahaya masuk.

Dan suara yang sangat kukenal berbisik,

“Aku bilang kamu ikut aku, kan?”

Jawaban dikunci

Komunitas masih berdiskusi.

Reveal otomatis dibuka setelah periode diskusi berakhir.

Sponsor setelah konten • bukan di tengah paragraf
Diskusi komunitas

Menurut lo, apa yang sebenarnya terjadi?